skip to main |
skip to sidebar
Senin, lebih sehari dari apa yang pernah dijanjikan. Sebenarnya saya ingat kemarin malam, namun rasanya otak sedang lelah berpikir, didukung jari yang terlalu malas menyentuh dashboard blogger. Saya memang sedang malas, sampai detik ini. Malas melakukan apapun, sampai rasanya malas berharap atas apapun. Aneh. Bukan hilang motivasi, hanya sedang ingin istirahat.
Ketika menulis ini, notes kuning yang merupakan salah satu aplikasi android adalah medianya. Bukan blogger.com ataupun body e-mail. Saya malas bertemu loading. Malas berharap koneksi internet menjadi sangat cepat. Malas berharap hujan akan segera berhenti dan berganti dengan awan cerah. Malas berharap e-mail saya yang satu itu terbalas satu menit lagi. Saat ini, saya benci berharap. Kalau untuk hal-hal kecil saja sulit, apalagi untuk hal-hal besar? Kadang merasa sangat bodoh dengan apa yang ada di pikiran saya. Untuk hal-hal menyenangkan yang selalu saya harapkan bisa terjadi. Manusia bisa apa? Harapan mungkin memang sepatutnya diberi hanya untuk Sang Pencipta, yang punya kuasa penuh atas apapun. Berbeda dengan manusia yang punya bakat untuk mengecewakan.
Lebih baik saya melakukan apa yang bisa saya kerjakan sendiri. Mendengarkan musik keras-keras atau apapun yang bisa menyenangkan hati. Tulisan ini semakin aneh maksudnya, lebih baik saya sudahi saja.
Selamat siang penulis dibalik palawija.tumblr.com, penyanyi bersuara merdu, dan pemurah senyum dimanapun kamu terlihat. Aku adalah penikmat tulisan-tulisanmu, foto-foto hitam putih, dan apapun yang kamu masukkan sebagai postingan di palawija berbentuk digital itu. Seringkali aku merasa penasaran dengan sosokmu yang sepertinya hangat, ketika dilihat di salah satu foto hitam putih, lagi-lagi di tumblrmu. Foto ramai-ramai di dalam mobil, dan ya ada anak-anak lucu yang membuat senyummu lebih menyenangkan. Aku mulai mengenalmu 2 tahun yang lalu, ketika ada yang sebentar-sebentar membicarakan lagu sewindu-mu di kampus. Iya, aku lebih awal mengetahui suaramu dibanding wajahmu. Google adalah teman waktu itu, aku mendengarkan lagumu, dan mulai mencari-cari siapa dirimu. Lalu tenggelamlah aku pada timeline twittermu, rangkaian kata-kata sederhana yang membuatku dengan mudah untuk menekan tombol favorite. Iya, aku mengagumimu. Dan sialnya, aku mendapatkan link tumblrmu. Sudahlah, aku makin tergila-gila. Beberapa kali ku-reblog tulisanmu. Namun, sengaja tidak kufollow karena takut terlalu kecanduan.
Mata segaris di minggu pagi, sudah biasa. Yang berbeda adalah, langsung membuka blogger melalui chrome gadget ini. Sungguh, ini tidak akan pernah saya lakukan kecuali dalam keadaan darurat. Hoam. Maaf sudah bangun terlambat hingga membuat tulisan-tulisan kita terlambat pula bisa dilihat satu sama lain. Tema hari ini adalah bingung. Kenapa? Mungkin karena Ia sedang bingung ketika menetapkannya.
Saat ini terdengar sayup-sayup lagu lawas yang disetel di tape recorder tetangga sebelah. Entah lagu apa, yang nyanyi siapa, sungguh hanya menambah saya menjadi lebih mengantuk. Kipas angin yang masih dinyalakan beberapa kali anginnya membuat mata saya meram sebentar-sebentar. Terlalu banyak gangguan pagi ini. Lalu saya ingin menulis apa? Mungkin sebuah pesan untukmu.
"I won’t be happy
‘till I’m with you
Home for me is where you are.
These four walls are nothing without you.
Home for me is where you are"
Us-
Take Me Home
Beberapa baris lirik
diatas adalah bagaimana perasaan saya yang masih sulit diluapkan ketika bertemu
dengannya, setelah pergi menjauh beberapa lama. Jarak memang bukan sekadar
ukuran, namun juga berkas-berkas harapan yang terus memanjang sepanjang jarak
yang terus bertambah. Bila dihitung menggunakan satuan kilometer, rasanya saya
memang tidak pernah sanggup untuk berpisah meski untuk sementara waktu. Saya
yang selalu kalah dalam perpisahan, pada akhirnya harus bersugesti kalau ada
yang indah setelah perpisahan. Yaitu pertemuan, yang sungguh jauh lebih
menyenangkan apabila terus diingat-ingat sampai saat ini.
Bagi saya, menjauh
sejenak itu penting bagi mereka yang ingin menemukan diri sendiri, melihat
dunia baru, dan berkenalan dengan orang-orang yang sebelumnya bagai alien dari
planet asing. Berada di suatu tempat yang baru merupakan hal yang agak
menakutkan sekaligus memberi tantangan bagi anak manja seperti saya. Untuk
pertama kalinya, saya memberanikan langkah untuk memulai perjalanan jauh
sendirian. Jogja, tidak begitu jauh memang --bagi sebagian orang--. Namun,
begitu banyak yang harus ditinggalkan sementara. Keluarga, sahabat, dan
seseorang lainnya yang spesial dalam hidup saya. Pergi jauh kali ini tentu
bukan untuk main-main, melainkan karena bagian dari inisiatif saya dalam
merampungi salah satu perkuliahan.
Belakangan ini, saya merasa terdorong-dorong oleh sesuatu. Mungkin namanya motivasi, yang datang lewat siapa saja di sekitar saya. Takdir memang begitu. Tiba-tiba saya banyak dipertemukan oleh orang-orang hebat yang belum pernah lihat sebelumnya atau menyadari ternyata saya dikelilingi beberapa teman yang ternyata hebat. Ada sesuatu yang magis ketika saya ingin mendatangi suatu acara, awalnya bukan karena ingin melihat sosok hebat si creator, namun pada akhirnya saya selalu dibayang-bayangi oleh kejeniusan ide pembuat objek yang ingin saya lihat. Atau ketika tiba-tiba tangan ini mengklik sebuah link di homepage facebook, dan terbawalah kepada cerita-cerita keren milik teman saya, dan saya baru sadar. Dan, yang paling mudah, tayangan televisi yang menyajikan obrolan hangat para pemimpin, sungguh inspiratif. Di tengah parahnya tayangan televisi, kita jadi lebih mudah menyaring tayangan mana yang benar-benar berkualitas dan berguna untuk ditonton sekeluarga. Dan, alhamdulillah ada yang masih baik.