Hampir persis setahun yang lalu, sebuah aplikasi dikirimkan ke salah satu badan penyelenggara pertukaran pemuda. Di tengah kesibukan penelitian dan kuliah penulisan populer ketika itu, beberapa puluh menit sengaja disisihkan untuk menuliskan beberapa essay. Pengiriman pun dibatasi dengan tenggat waktu. Dengan mental mahasiswa, aplikasi itu dikirimkan pada jam dan hari terakhir. Traffic penuh. E-mail perlu mengantri cukup lama, sehingga harus singgah di outbox beberapa saat. Meski modem ketika itu masih agak waras, tapi tidak membuat e-mail itu terkirim segera.
Hampir tengah malam, namun laptop masih menyala. Sampai akhirnya e-mail itu keluar dari outbox, artinya laptop harus di-shutdown. Dan tidur secepatnya. Tidak lupa berdoa.
Beberapa hari kemudian, sebuah tweet melintas di timeline twitter. Kurang lebih isinya seperti ini: Pengumuman seleksi untuk tahap II sudah dapat diakses melalui website kami. Berikut linknya http://blablah...
Showing posts with label dream. Show all posts
Showing posts with label dream. Show all posts
Saturday, April 18, 2015
Friday, March 13, 2015
Yang Kembali Terbangun
Kata orang, kita harus punya mimpi
Kata orang, kalo bisa yang setinggi langit
Kata orang, nggak ada kata terlambat
Yah, kata orang. Kalau kata kamu gimana? Hehe.
Sepertimya aku pernah beberapa kali memuat tulisan soal mimpi-mimpiku, dan ada mimpi yang belum juga terwujud sampai hari ini. Jadi bakal kutulis lagi disini, mungkin sampai benar terwujud.
Tahun lalu, aku diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan. Dan disini, aku bertemu dengan Hana, teman sedivisi yang ternyata berasal dari perguruan tinggi yang sama. Secara tidak sadar, ia telah membangunkan sebuah mimpi yang telah sengaja kukubur dalam-dalam beberapa kali.
Sampai hari ini ternyata aku masih memiliki keinginan yang kuat untuk yang satu ini. Silakan buka tulisan-tulisanku yang sebelumnya dengan tag: dream untuk mengetahui apa itu.
Kata orang, kalo bisa yang setinggi langit
Kata orang, nggak ada kata terlambat
Yah, kata orang. Kalau kata kamu gimana? Hehe.
Sepertimya aku pernah beberapa kali memuat tulisan soal mimpi-mimpiku, dan ada mimpi yang belum juga terwujud sampai hari ini. Jadi bakal kutulis lagi disini, mungkin sampai benar terwujud.
Tahun lalu, aku diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan. Dan disini, aku bertemu dengan Hana, teman sedivisi yang ternyata berasal dari perguruan tinggi yang sama. Secara tidak sadar, ia telah membangunkan sebuah mimpi yang telah sengaja kukubur dalam-dalam beberapa kali.
Sampai hari ini ternyata aku masih memiliki keinginan yang kuat untuk yang satu ini. Silakan buka tulisan-tulisanku yang sebelumnya dengan tag: dream untuk mengetahui apa itu.
Wednesday, June 11, 2014
The 4th Indonesia Hijab Fest: Great Festival for Great Muslimah
Assalamualaikum, folks!
How's your day? Wishing all of you have a lovely great day ;)
So, i wanna present you an impressive event that already passed. But the euphoria is still revolving until this calm Wednesday. Can you guess what the event was?
Yea, The 4th Indonesia Hijab Fest!
Yea, The 4th Indonesia Hijab Fest!
(source: http://www.http://jadwalevent.web.id/)
An annual big event was held again, yuhuuu! The three before was succeed, so how about the 4th? Yes, we will know how it was through this blog post :)
This event was held on May 29, 2014 until June 1, 2014 at Sabuga, Bandung. Becoming part of that event wasn't really difficult. We just need to paid Rp30.000,00 (public) or Rp5.000,00 (student). Moreover, we can entry for free if we bring mukenah that will be given to Mukena Charity. Yes, yes, it's so worth it. For the days, so many valuable contents and competitions were there. Including Parade Ustadz, Tulus Mini Concert, Family Fun Run, Talk Show, Fashion Show, and some competitions.
Sunday, June 1, 2014
Sebelum Expired
Dum!
Sesuatu melesap ke dalam pikiran saya lagi. Memaksa masuk melalui celah-celah yang hampir tersumbat. Sebut sesuatu itu dengan L!
L (sesuatu) : halo! saya datang lagi ho ho ho
S (saya) : mau ngapain lagi? Heh!
L : mengganggu pikiranmu
S : pikiran udah over load begini, rajin bener mau nambahin *sigh*
L : karena saya peduli sama kamu
S : mana mungkin. Kamu tau apa tentang saya?
L : tentang apapun, melalui apa yang kamu tulis di buku maupun media sosial
S : sekali lagi ya, kamu sok tau!
L : terserah, saya yakin kamu penasaran
S : kepedean!
Thursday, May 22, 2014
Beda Empat Menit!
Hai Mister, yang lagi bagi-bagi hadiah buat jalan-jalan muterin Inggris! Salam kenal, aku Retno Andini, yang seringnya dipanggil Keke biar nggak ribet.
Kenapa?
Kenapa Keke?
Karena gak butuh R. Kasian teman-teman yang agak susah nyebutin R, dipaksa untuk manggil "Retnooo!" Nggak suka kalo didengernya jadi "Letnooo!" :(
Oke, garing. Ada sih alasan yang sejujurnya cuma diketahui beberapa orang terdekat. Nanti Mister juga dikasih tau deh kalo kita akhirnya duduk sebangku di London Eye :3
Saat ini, aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berperang dengan waktu. Setiap mengerjakan tugas akhir yang satu itu, ada degup yang lebih keras ketika mengingat waktu. Sebentar lagi, ya sebentar lagi harus selesai. Semuanya serba memakai deadline, yang kalo diindonesiakan tanpa buka kamus artinya garis kematian. Hiii serem! Bagaimana deadline ditentukan? Jelas, dengan menjadikan waktu sebagai ukuran.
Seringkali dosen meminta mahasiswanya untuk men-submit tugas pada pukul 23.59 WIB. Orang-orang yang rajin dan tepat waktu biasanya akan mengumpulkan empat jam sebelum deadline. Orang-orang yang rajin namun memiliki koneksi internet yang buruk, baru dapat mengumpulkan sejam sebelum deadline. Loading adalah satu-satunya alasan, ketika ukuran tugas yang harus dikumpulkan melebihi 10 MB. Lalu apa yang terjadi kepada mahasiswa yang malas dan memiliki koneksi internet yang kurang baik? Mereka mengumpulkannya tepat pukul 23.59 WIT. Bye!
Kata seseorang,Jangan menjadi orang yang dikejar-kejar waktu, jadilah yang mengejar waktu.
Iya, kata-kata itu selalu berada di bagian paling bawah, mengendap, di alam bawah sadarku. Namun, kenyataannya untuk hal-hal yang begitu kecil saja, aku suka tidak mengindahkan waktu. Misalnya ketika berjanjian dengan seseorang. Ia adalah laki-laki yang sangat tepat waktu. Sepertinya memang dia yang Capricorn sejati, bukan aku. Setiap berjanjian dengannya, selalu aku dan lagi-lagi aku yang terlambat. Meski sudah menetapkan waktu bertemu dengan jam dan menit yang seharusnya ditepati, tetap saja tidak mempan untukku.
Suatu siang di bulan Februari, aku berjanjian dengannya di suatu tempat dengan waktu yang sengaja kutentukan sehari sebelumnya.
"Jadi besok mau ketemu jam berapa disana?"
"Enaknya jam berapa ya?"
"Kamu yang nentuin aja..."
"Kok gitu? Kamu aja."
"Kamu aja, sayang."
"Kamu..."
Begitu terus sampai lebaran kuda.
Sampai pada akhirnya, "Yaudah jam 10.15 ya disana. Jangan ngaret loh!" kataku.
"Oke deh, yang biasanya ngaret siapa emangnya?"
"...."
"Sampai ketemu besok jam sepuluh lewat lima belas. LIMA BELAS."
Suka hiperbolis ceritanya.
Keesokan harinya, aku berusaha untuk bersiap-siap lebih cepat, kemudian minta diantarkan adik ke jalan raya untuk menunggu angkot. Sayangnya, adik ternyata ada kuliah pagi. Alamat mesti jalan kaki sambil lari-lari yang membutuhkan waktu sekitar tujuh menit.
Setelah mendapatkan angkot untuk mencapai tempat bertemu, aku naik dan duduk manis di bangku enam paling pojok kesukaanku. Semilir angin lewat jendela geser yang dibuka, membuatku tidak ngeh kalau aku sudah tiga menit berada di tengah kemacetan. Deg-degan. Jangan sampai ia yang sampai duluan, batinku.
Pukul 10.09, ia mengirimkan sebuah pesan singkat yang isinya menanyakan keberadaanku saat itu. Kujawab buru-buru, dan bertanya balik apakah ia sudah sampai di tempat itu. Kutunggu jawabannya, hingga akhirnya ia menjawab pada pukul 10.12.
Jreng! Kukatakan padanya bahwa aku akan segera sampai pada waktu yang tepat, 10.15 WIB. Ketika sudah sampai, aku melihatnya yang sedang berkali-kali memandangi jam tangannya yang bukan digital. Lalu kukatakan kepadanya, "Hey, aku tepat waktu kan?'
"Enggg, di jam ini sekarang udah 10.19. Weeek!"
"Lah kok? Di handphoneku..."
"Loh?"
"Jam kamu salah kali tuh."
"Nggak mungkin sayang, ini udah sama waktunya kayak jam beberapa orang penting. Hahahaha."
"Nggak mungkin. Jam aku lah yang bener."
"Ah, masa?"
"Iya dong, ini pake standar waktu di Big Ben."
"Pret!"
"Ih beneran. Awas aja."
Kemudian kami terus melanjutkan perdebatan tidak penting mengenai selisih waktu yang kami yakini. Semenjak itu, aku sering melihat waktu di jam yang digunakan orang lain. Semakin bingung, ada yang beda 10 menit, 5 menit, bahkan 1 menit, dengan waktu yang kuyakini. Dengan itu, aku ingin membuktikan bahwa waktu yang ter-setting di ponselku adalah benar dengan standar dunia. Hahahaha...
Anyway, salam dari keluargaku yang suka banget nyemilin Smax VIlle & Mister Potato hihihihiMister, ajak aku ke Big Ben yah. Biar kalo janjian sama dia lagi, aku bisa punya pendapat yang gak bisa dibantah kalo dibilang ngaret lagi :3
Sunday, May 18, 2014
Agenda Mimpi
Halo! Salam ini ditujukan untuk siapa pun yang sedang mengunjungi halaman ini. Terima kasih untuk membaca lebih lanjut tulisan rutin Minggu pagi blog saya. Mari berbicara tentang mimpi, harapan, dan apa pun yang terkesan konyol namun selalu minta untuk dicapai.
Pagi ini, ada lembaran ms. word yang minta terus dibuka dan ditambah isinya. Iya, kewajiban saya memang untuk mengerjakannya. Tapi sebentar dulu, saya ingin mengisi blog sebentar. Lama-lama pusing juga, resah juga, mengingat tenggat waktu yang semakin dekat. Rasanya seperti ditakut-takuti badut tinggi besar dengan tutul-tutul merah di kedua pipinya. Kemudian badut tersebut ingin menyergap saya dan memasukkan ke dalam kantong depan baju polkadotnya. AH! Namun, ini artinya segala tanggung jawab saya akan dan harus segera selesai! :')
Sunday, March 30, 2014
Rumah Impian
Memiliki sebuah rumah tentu menyenangkan bagi setiap orang, ya kalau di buku IPS kelas 3 SD pun dikatakan kalau rumah (papan) adalah kebutuhan pokok manusia setelah sandang dan pangan. Aku pun pasti ingin memiliki rumah suatu saat nanti, setelah hampir 22 tahun dibesarkan di lima rumah yang berbeda. Banyak ya, ternyata keluargaku hobi berpindah-pindah ketika itu. Mengalami banyak perpindahan membuatku 'dipaksa' untuk cepat beradaptasi dengan orang baru. Ingat sekali ketika masih pra TK, aku sedang hobi bermain dokter-dokteran di lantai dua rumah seorang teman. Namun, orangtua tiba-tiba memberitahuku kalau kita akan segera pindah.
Wednesday, January 23, 2013
Amerika
Aku merasakannya lagi, setelah baru saja kukubur dalam-dalam
mimpi itu. Menginjak tanah daratan benua itu, Amerika namanya. Mimpi yang
kurasa bertahan paling lama di pikiranku, di jiwaku. Lama, karena sulit
menggapainya. Tiga tahun lalu, setelah membaca sebuah karya yang menurutku
sangatlah berharga, karena mampu menggetarkan hatiku. Buku yang membuatku berani
memiliki mimpi. Berani mencari-cari beasiswa untuk bisa hadir disana. Di tengah
taman dengan pohon maple yang sedang berguguran daunnya, dengan pemandangan air
terjun niagara yang begitu dekat, sangat dekat. Aku menyukai bacaan-bacaan yang
berlatar luar negeri, dari Asia sampai Amerika. Begitu juga dengan buku-buku
berlatar negara-negara di Eropa. Namun, sungguh aku hanya tertarik pada benua
satu itu, yang ditemukan Christoper Colombus 71 tahun lalu.


