Belakangan ini, saya merasa terdorong-dorong oleh sesuatu. Mungkin namanya motivasi, yang datang lewat siapa saja di sekitar saya. Takdir memang begitu. Tiba-tiba saya banyak dipertemukan oleh orang-orang hebat yang belum pernah lihat sebelumnya atau menyadari ternyata saya dikelilingi beberapa teman yang ternyata hebat. Ada sesuatu yang magis ketika saya ingin mendatangi suatu acara, awalnya bukan karena ingin melihat sosok hebat si creator, namun pada akhirnya saya selalu dibayang-bayangi oleh kejeniusan ide pembuat objek yang ingin saya lihat. Atau ketika tiba-tiba tangan ini mengklik sebuah link di homepage facebook, dan terbawalah kepada cerita-cerita keren milik teman saya, dan saya baru sadar. Dan, yang paling mudah, tayangan televisi yang menyajikan obrolan hangat para pemimpin, sungguh inspiratif. Di tengah parahnya tayangan televisi, kita jadi lebih mudah menyaring tayangan mana yang benar-benar berkualitas dan berguna untuk ditonton sekeluarga. Dan, alhamdulillah ada yang masih baik.
Wednesday, January 1, 2014
Sunday, December 29, 2013
Proses
Setiap momen punya makna, baik ataupun buruk, pasti ada maksudnya. Saya selalu mempercayai hal itu. Masih ingat sekali, ketika hari Minggu kemarin disibukkan masalah Laporan PKL. Mencari, mencetak, menunggu janin berupa kertas-kertas kenangan yang akhirnya menjadi bayi putih cantik berhardcover tinta emas. Ya, semenghargai itu.
Sampai sekarang, masih suka terharu sendiri ketika melihat lembaran-lembaran ketikan beserta gambar didalamnya. Ada tawa bahagia, kerinduan, bahkan air mata di setiap kata yang terketik. Terhitung sejak Maret 2013, kami sudah sibuk mengurus perizinan untuk bisa PKL di tempat istimewa itu. Fluktuatif sekali rasanya mendapat respons yang seringkali mengagetkan dari beberapa pihak. Entah dari teman, orang tua, ataupun dinas pemerintahan setempat. Titik terendah pertama yang dialami ketika, pihak pemerintah kota itu meminta surat rekomendasi dari provinsi dimana Universitas kami berada. Jadi kami harus ke Bandung dahulu sebelum kesini? Saat itu, kuliah sedang banyak-banyaknya tugas. Namun, tetap disempatkan untuk beberapa hari mengurus perizinan disana (sekalian main-main sih). Pada akhirnya, kami pulang dengan senyum puas. Percayalah, niat yang baik selalu terbantu dari manapun. Jangan pernah berhenti, sebelum benar-benar mencapai. Itu yang kami rasakan disana. Ketika putus asa hanya untuk sekadar dilewatkan, hidup harus tetap berjalan.
Destinasi tercapai. Sekitar 30 hari berada disana, dan banyak hal yang saya pelajari tentang apapun. Ternyata, kita bisa belajar setiap langkah kaki kita bergerak. Apapun yang kita lihat sekarang, bisa jadi merupakan hal penting yang harus dimaknai sedalam-dalamnya. Saat itu, harga sebuah perhatian sangatlah mahal. Seringkali saya menangis ketika mendapat telepon dari orang rumah. Padahal sedang tidak membicarakan hal yang penting. Seperti misalnya saya bercerita tentang jari saya yang sedikit melepuh terkena panas setrikaan. Orang tua saya hanya bilang, "kamu kenapa ga laundry aja?". Lalu saya tersedak menangis. Ibu saya bilang "kamu pilek ya? kok serak?". Karena saya takut ibu sedih mengetahui saya menangis, saya hanya bilang "iya nih, udah dulu ya mah" lalu saya lanjut mencuci baju lagi di kosan. Haus perhatian sekali saya saat itu. Padahal, ketika di rumah biasanya saya sering mengabaikan ayah ibu saya saat mengingatkan makan atau minum susu.
Sunday, October 13, 2013
Berobat kepada Alam
Untuk setiap hati yang sedang sunyi, berbaringlah di atas sekawanan daun hijau
Kata orang, padang rumput namanya
Lalu menataplah ke atas, dimana lampu-lampu bumi berasal
Oh ya, kekelaman pun bermula dari sana
Jangan berhenti, terus menatap dan diam sejenak
Lihatlah ada sesuatu yang cerah di sela-sela kapuk putih keabu-abuan
Silau bukan?
Meskipun tidak sebagus warna kuning yang berasal dari cangkang telur
Angin menarik daun-daun tua bersamanya
Ada ikhlas di setiap yang terbang
Memberi kesempatan yang muda bergantian
Benang sari bahagia melayang-layang
Beberapa bersujud kepada angin
Sedikit banyak bantuannya menghidupkan generasinya
Awan menggulung-gulung
Doaku terus meluncur dengan papan harapan
Agar sesak ini tidak membusuk di dada
Gusar terus memerangi
Hingga burung-burung terbang pulang ke rumahnya
Terima kasih atas telinga serta keindahanmu
Obat gundah yang kuakui malu-malu
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Kata orang, padang rumput namanya
Lalu menataplah ke atas, dimana lampu-lampu bumi berasal
Oh ya, kekelaman pun bermula dari sana
Jangan berhenti, terus menatap dan diam sejenak
Lihatlah ada sesuatu yang cerah di sela-sela kapuk putih keabu-abuan
Silau bukan?
Meskipun tidak sebagus warna kuning yang berasal dari cangkang telur
Angin menarik daun-daun tua bersamanya
Ada ikhlas di setiap yang terbang
Memberi kesempatan yang muda bergantian
Benang sari bahagia melayang-layang
Beberapa bersujud kepada angin
Sedikit banyak bantuannya menghidupkan generasinya
Awan menggulung-gulung
Doaku terus meluncur dengan papan harapan
Agar sesak ini tidak membusuk di dada
Gusar terus memerangi
Hingga burung-burung terbang pulang ke rumahnya
Terima kasih atas telinga serta keindahanmu
Obat gundah yang kuakui malu-malu
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Tuesday, October 8, 2013
Lebih Kecil Lagi
Di pojokan dekat tiang listrik, kulihat tumpukan plastik warna-warni berserakan, sesekali ada binatang yang mampir lalu mengoyak-ngoyak plastik tersebut hingga tampak tidak jelas bentuknya. Tumpukannya semakin tinggi, setinggi rasa perihatin setiap orang yang melewatinya. Padahal ada kotak yang terbuat dari adukan semen dan pasir dengan batu-bata sebagai pondasinya, namun tetap tidak cukup.
Semenjak SD, aku diajarkan seseorang teman tentang melipat sampah plastik untuk menjadi lebih kecil. Ketika, itu, aku tidak paham maksudnya. Hanya saja aku senang melakukannya dikarenakan bentuknya menjadi lucu seperti pita yang dijual di abang-abang depan sekolah. Beberapa waktu lalu, saat ada seminar tentang lingkungan, ada seorang pembicara datang dari sebuah Universitas di Jepang, dibantu dengan translatornya, beliau menyampaikan tentang kesadaran masyarakat Jepang akan sampah. Selesai dipaparkannya masalah sampah, translatornya ternyata pernah melakukan penelitian tentang sampah di Bantar Gebang. Beliau mengamati kebiasaan masyarakat dari cara membuang sampah dengan keadaan yang tidak dipisahkan terlebih dahulu antara organik dan non-organik. Setelah menjelaskan panjang lebar, beliau mengatakan bahwa sebelum plastik dimasukkan ke dalam tempat sampah, maka perlu dipastikan terlebih dahulu mengenai ukuran yang diperkecil sehingga tempat sampah dapat menampung volume sampah yang lebih banyak. Semenjak itu, aku menjadi paham tentang cara melipat yang kubilang sangat lucu karena bentuknya ternyata ada manfaatnya juga. Berikut caranya:
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Semenjak SD, aku diajarkan seseorang teman tentang melipat sampah plastik untuk menjadi lebih kecil. Ketika, itu, aku tidak paham maksudnya. Hanya saja aku senang melakukannya dikarenakan bentuknya menjadi lucu seperti pita yang dijual di abang-abang depan sekolah. Beberapa waktu lalu, saat ada seminar tentang lingkungan, ada seorang pembicara datang dari sebuah Universitas di Jepang, dibantu dengan translatornya, beliau menyampaikan tentang kesadaran masyarakat Jepang akan sampah. Selesai dipaparkannya masalah sampah, translatornya ternyata pernah melakukan penelitian tentang sampah di Bantar Gebang. Beliau mengamati kebiasaan masyarakat dari cara membuang sampah dengan keadaan yang tidak dipisahkan terlebih dahulu antara organik dan non-organik. Setelah menjelaskan panjang lebar, beliau mengatakan bahwa sebelum plastik dimasukkan ke dalam tempat sampah, maka perlu dipastikan terlebih dahulu mengenai ukuran yang diperkecil sehingga tempat sampah dapat menampung volume sampah yang lebih banyak. Semenjak itu, aku menjadi paham tentang cara melipat yang kubilang sangat lucu karena bentuknya ternyata ada manfaatnya juga. Berikut caranya:
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Rumput kepada Hujan
Perang itu, kapan datang lagi? Aku ingin digempur terus-terusan. Lokasiku kian buruk. Di tengah himpitan tembok abu-abu raksasa, sesekali berteriak pun tidak didengar. Tubuhku makin kecil saja, bagian ujungnya berubah warna, kering, lalu rapuh dan terbang bersama angin. Pasrah rasanya jauh lebih baik, ketika berusaha pun nihil hasilnya. Beberapa kali aku tergerus benda berbahan semacam karet yang lagi-lagi raksasa, sakit, berkali-kali. Air mataku kering sudah.
Hewan-hewan kecil itu menengok keadaanku setiap hari, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih. Harapan itu makin sedikit. Semakin pada sibuk sendiri, aku pun sibuk meminta pertolongan siapa pun yang mendengar isakanku. Terhempas aku oleh angin. Meninggalkan sedikit bagian tubuhku yang masih terjepit tembok abu-abu raksasa itu. Andai ada pilihan selain berpisah, aku akan memilihnya. Sayangnya, ini adalah yang terbaik meskipun terburuk. Seperempat bagianku yang masih tinggal terus menangis, meminta hal yang sama denganku. Perang itu kapan datang lagi? Aku butuh air.
Semakin aku terbang, bisa kulihat rumahku yang dulu. Di tengah himpitan dua paving block abu-abu yang seringkali diinjak manusia. Aku memang kecil, makanya jarang yang menghargai. Hujan, datanglah. Beri seperempat bagian tubuhku yang masih tinggal itu kesempatan untuk merasakan apa yang tidak sempat kurasakan, diperangi ribuan tetes air yang membahagiakan.
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Hewan-hewan kecil itu menengok keadaanku setiap hari, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih. Harapan itu makin sedikit. Semakin pada sibuk sendiri, aku pun sibuk meminta pertolongan siapa pun yang mendengar isakanku. Terhempas aku oleh angin. Meninggalkan sedikit bagian tubuhku yang masih terjepit tembok abu-abu raksasa itu. Andai ada pilihan selain berpisah, aku akan memilihnya. Sayangnya, ini adalah yang terbaik meskipun terburuk. Seperempat bagianku yang masih tinggal terus menangis, meminta hal yang sama denganku. Perang itu kapan datang lagi? Aku butuh air.
Semakin aku terbang, bisa kulihat rumahku yang dulu. Di tengah himpitan dua paving block abu-abu yang seringkali diinjak manusia. Aku memang kecil, makanya jarang yang menghargai. Hujan, datanglah. Beri seperempat bagian tubuhku yang masih tinggal itu kesempatan untuk merasakan apa yang tidak sempat kurasakan, diperangi ribuan tetes air yang membahagiakan.
Tulisan ini dalam rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan @unidzalika (http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)

