Perang itu, kapan datang lagi? Aku ingin digempur terus-terusan. Lokasiku kian buruk. Di tengah himpitan tembok abu-abu raksasa, sesekali berteriak pun tidak didengar. Tubuhku makin kecil saja, bagian ujungnya berubah warna, kering, lalu rapuh dan terbang bersama angin. Pasrah rasanya jauh lebih baik, ketika berusaha pun nihil hasilnya. Beberapa kali aku tergerus benda berbahan semacam karet yang lagi-lagi raksasa, sakit, berkali-kali. Air mataku kering sudah.
Hewan-hewan kecil itu menengok keadaanku setiap hari, namun hanya sebatas itu. Tidak lebih. Harapan itu makin sedikit. Semakin pada sibuk sendiri, aku pun sibuk meminta pertolongan siapa pun yang mendengar isakanku. Terhempas aku oleh angin. Meninggalkan sedikit bagian tubuhku yang masih terjepit tembok abu-abu raksasa itu. Andai ada pilihan selain berpisah, aku akan memilihnya. Sayangnya, ini adalah yang terbaik meskipun terburuk. Seperempat bagianku yang masih tinggal terus menangis, meminta hal yang sama denganku. Perang itu kapan datang lagi? Aku butuh air.
Semakin aku terbang, bisa kulihat rumahku yang dulu. Di tengah himpitan dua paving block abu-abu yang seringkali diinjak manusia. Aku memang kecil, makanya jarang yang menghargai. Hujan, datanglah. Beri seperempat bagian tubuhku yang masih tinggal itu kesempatan untuk merasakan apa yang tidak sempat kurasakan, diperangi ribuan tetes air yang membahagiakan.
Tulisan ini dalam
rangka event #30DaysSaveEarth yang di selenggarakan oleh @jungjawa dan
@unidzalika
(http://lomenulis.com/post/62784084100/lomba-menulis-dalam-bentuk-apa-pun-dl-31-okt-2013)
Tuesday, October 8, 2013
Friday, October 4, 2013
2050
Retno Andini 10/4/2013
Meringkuk
Diam sendiri
Temaram lampu malam ini gila
Sakit mata aku dibuatnya
Makin sulit menggores tinta
Kertasku tercoret-coret asal
Tidak jelas
Komputer?
Apa itu?
Hilang guna benda itu
Kembali ke jaman purba
Hanya ada air dan api
Habis semua
Karena kau!
Kalian
Kita semua
Thursday, October 3, 2013
Punya Kita, Kewajiban Kita
Tempat itu sering kulewati, ramai kelihatannya. Akhirnya kuputuskan mampir untuk mengetahui ada apa sebenarnya, bersama teman istimewaku. Dari bagian depan, kuputuskan tempat ini keren kalau dilihat lokasinya yang jauh dari pusat kota dan tidak adanya akses kendaraan umum. Lalu kami mencoba melewati pintu masuk yang digelantungi tumbuhan merambat yang entah apa namanya. Pemandanganku langsung tertuju pada danau dengan enam lampu berbentuk bunga di dua sisinya. Danau buatan itu dikelilingi beberapa orang untuk sekedar duduk maupun mengobrol dengan orang di sebelahnya. Kulihat ada keluarga, sekelompok remaja maupun anak-anak, pasangan muda, dan beberapa orang yang memilih datang sendiri. Tempat ini mampu meraih pasar sepertinya. Lalu kulihat lagi danau itu, cokelat kelam warnanya. Padahal kukira karena tampat ini masih baru, warna airnya masih jernih. Di sisi kanannya banyak sampah mengapung, dari bungkus makanan hingga kantong plastik. Duh, malangnya tempat ini.
Semerdu Kita, Katamu
Bahagia, masihkah sederhana? Seperti ketika terbangun dari tidur, lalu mendengarkan banyak ocehan burung khas pagi hari? Atau ketika menjaga anak-anak ayam yang sedang menunduk mencari-cari cacing tanah? Mungkin sudah jarang dirasakan kebanyakan orang, karena hidup tidaklah sesederhana itu sekarang. Ketika gaya hidup adalah segalanya. Maka, kenyamanan akan tempat tinggal jadi prioritas. Kegiatan yang harus dimulai sejak dini hari, bangun, siap-siap, sarapan, lalu berangkat ke sekolah/kampus/kantor. Waktu begitu mahal rasanya apabila terbuang untuk memperhatikan suara-suara binatang sekian menit, untuk sebagian orang.
Sadarkah apabila binatang yang menggemaskan di sekitar kita butuh perhatian lewat suara-suara lucunya? Ada yang "ngeong", "cuitcuitcuit", atau "moooo". Andai bisa memahami makna keindahan suara mereka, mungkin akan kudatangi mereka setiap pagi lalu menanyakan apa kabarnya pencarian makan hari kemarin. Seperti kemarin, di saat lagi berada di tengah kemacetan menuju kampus, kulihat seekor kucing di kiri jalan sedang menarik-narik ilalang. Mungkin kelaparan, lalu berusaha makan apa saja yang bisa dimakan. Bisa dibayangkan? Makhluk karnivora satu itu berusaha menjadi herbivora dikarenakan keadaan. Badannya kurus kering, semacam butuh pertolongan. Suaranya lemah, hilang tenaga. Jujur, aku bukan penyuka binatang. Namun apabila melihat binatang yang sedang terlihat lapar, tidak segan rasanya membagi makanan yang sedang kunikmati di atas piring meja kantin fakultasku.
Sadarkah apabila binatang yang menggemaskan di sekitar kita butuh perhatian lewat suara-suara lucunya? Ada yang "ngeong", "cuitcuitcuit", atau "moooo". Andai bisa memahami makna keindahan suara mereka, mungkin akan kudatangi mereka setiap pagi lalu menanyakan apa kabarnya pencarian makan hari kemarin. Seperti kemarin, di saat lagi berada di tengah kemacetan menuju kampus, kulihat seekor kucing di kiri jalan sedang menarik-narik ilalang. Mungkin kelaparan, lalu berusaha makan apa saja yang bisa dimakan. Bisa dibayangkan? Makhluk karnivora satu itu berusaha menjadi herbivora dikarenakan keadaan. Badannya kurus kering, semacam butuh pertolongan. Suaranya lemah, hilang tenaga. Jujur, aku bukan penyuka binatang. Namun apabila melihat binatang yang sedang terlihat lapar, tidak segan rasanya membagi makanan yang sedang kunikmati di atas piring meja kantin fakultasku.
Tuesday, October 1, 2013
Rindu Langit Biru
Pagi memintaku menemani untuk jalan-jalan di bawah langit yang kata orang lagi bersih-bersihnya, matahari pun baru muncul ketika itu. Kususuri jalan dengan bolak-balik melirik langit, mencari biru muda yang kuharapkan sejak bangun tidur. Lalu ku menunduk. Kali ini aku hanya berjalan melewati kavling demi kavling perumahan yang rasanya membuat aku makin sulit berjalan. Jalan ini sesak akan kendaraan yang diam, mungkin sebentar lagi akan dinyalakan mesinnya, lalu meluncur dengan ribuan kendaraan lainnya.
Aku tetap menunggu lukisan itu berwarna biru, meski tidak mungkin rasanya. Semakin dimakan menit, lukisan itu makin putih kusam. Kendaraan semakin menyeruak ke jalan raya, asap mengepul. Beberapa kali kututup hidungku saat kepulan abu-abu itu menghampiri udara, padahal tadinya hanya sekumpulan oksigen yang bakal kuhirup. Tertunduk aku pada kenyataan. Pagi ini bising serta menyesakkan. Merah, putih, hitam, abu-abu, begitulah warna kendaraan yang kulihat mondar-mandir mengantar manusia didalamnya. Volume kendaraan yang berlebihan ini begitu menyesakkan. Kepulan asapnya yang membuat langitku enggan menjadi biru lagi.
Aku tetap menunggu lukisan itu berwarna biru, meski tidak mungkin rasanya. Semakin dimakan menit, lukisan itu makin putih kusam. Kendaraan semakin menyeruak ke jalan raya, asap mengepul. Beberapa kali kututup hidungku saat kepulan abu-abu itu menghampiri udara, padahal tadinya hanya sekumpulan oksigen yang bakal kuhirup. Tertunduk aku pada kenyataan. Pagi ini bising serta menyesakkan. Merah, putih, hitam, abu-abu, begitulah warna kendaraan yang kulihat mondar-mandir mengantar manusia didalamnya. Volume kendaraan yang berlebihan ini begitu menyesakkan. Kepulan asapnya yang membuat langitku enggan menjadi biru lagi.
