skip to main |
skip to sidebar
Retno Andini 10/4/2013
Meringkuk
Diam sendiri
Temaram lampu malam ini gila
Sakit mata aku dibuatnya
Makin sulit menggores tinta
Kertasku tercoret-coret asal
Tidak jelas
Komputer?
Apa itu?
Hilang guna benda itu
Kembali ke jaman purba
Hanya ada air dan api
Habis semua
Karena kau!
Kalian
Kita semua
Tempat itu sering kulewati, ramai kelihatannya. Akhirnya kuputuskan mampir untuk mengetahui ada apa sebenarnya, bersama teman istimewaku. Dari bagian depan, kuputuskan tempat ini keren kalau dilihat lokasinya yang jauh dari pusat kota dan tidak adanya akses kendaraan umum. Lalu kami mencoba melewati pintu masuk yang digelantungi tumbuhan merambat yang entah apa namanya. Pemandanganku langsung tertuju pada danau dengan enam lampu berbentuk bunga di dua sisinya. Danau buatan itu dikelilingi beberapa orang untuk sekedar duduk maupun mengobrol dengan orang di sebelahnya. Kulihat ada keluarga, sekelompok remaja maupun anak-anak, pasangan muda, dan beberapa orang yang memilih datang sendiri. Tempat ini mampu meraih pasar sepertinya. Lalu kulihat lagi danau itu, cokelat kelam warnanya. Padahal kukira karena tampat ini masih baru, warna airnya masih jernih. Di sisi kanannya banyak sampah mengapung, dari bungkus makanan hingga kantong plastik. Duh, malangnya tempat ini.
Bahagia, masihkah sederhana? Seperti ketika terbangun dari tidur, lalu mendengarkan banyak ocehan burung khas pagi hari? Atau ketika menjaga anak-anak ayam yang sedang menunduk mencari-cari cacing tanah? Mungkin sudah jarang dirasakan kebanyakan orang, karena hidup tidaklah sesederhana itu sekarang. Ketika gaya hidup adalah segalanya. Maka, kenyamanan akan tempat tinggal jadi prioritas. Kegiatan yang harus dimulai sejak dini hari, bangun, siap-siap, sarapan, lalu berangkat ke sekolah/kampus/kantor. Waktu begitu mahal rasanya apabila terbuang untuk memperhatikan suara-suara binatang sekian menit, untuk sebagian orang.
Sadarkah apabila binatang yang menggemaskan di sekitar kita butuh perhatian lewat suara-suara lucunya? Ada yang "ngeong", "cuitcuitcuit", atau "moooo". Andai bisa memahami makna keindahan suara mereka, mungkin akan kudatangi mereka setiap pagi lalu menanyakan apa kabarnya pencarian makan hari kemarin. Seperti kemarin, di saat lagi berada di tengah kemacetan menuju kampus, kulihat seekor kucing di kiri jalan sedang menarik-narik ilalang. Mungkin kelaparan, lalu berusaha makan apa saja yang bisa dimakan. Bisa dibayangkan? Makhluk karnivora satu itu berusaha menjadi herbivora dikarenakan keadaan. Badannya kurus kering, semacam butuh pertolongan. Suaranya lemah, hilang tenaga. Jujur, aku bukan penyuka binatang. Namun apabila melihat binatang yang sedang terlihat lapar, tidak segan rasanya membagi makanan yang sedang kunikmati di atas piring meja kantin fakultasku.
Pagi memintaku menemani untuk jalan-jalan di bawah langit yang kata orang lagi bersih-bersihnya, matahari pun baru muncul ketika itu. Kususuri jalan dengan bolak-balik melirik langit, mencari biru muda yang kuharapkan sejak bangun tidur. Lalu ku menunduk. Kali ini aku hanya berjalan melewati kavling demi kavling perumahan yang rasanya membuat aku makin sulit berjalan. Jalan ini sesak akan kendaraan yang diam, mungkin sebentar lagi akan dinyalakan mesinnya, lalu meluncur dengan ribuan kendaraan lainnya.
Aku tetap menunggu lukisan itu berwarna biru, meski tidak mungkin rasanya. Semakin dimakan menit, lukisan itu makin putih kusam. Kendaraan semakin menyeruak ke jalan raya, asap mengepul. Beberapa kali kututup hidungku saat kepulan abu-abu itu menghampiri udara, padahal tadinya hanya sekumpulan oksigen yang bakal kuhirup. Tertunduk aku pada kenyataan. Pagi ini bising serta menyesakkan. Merah, putih, hitam, abu-abu, begitulah warna kendaraan yang kulihat mondar-mandir mengantar manusia didalamnya. Volume kendaraan yang berlebihan ini begitu menyesakkan. Kepulan asapnya yang membuat langitku enggan menjadi biru lagi.
Retno Andini, 8/19/2013
Senja menyusup lewat celah-celah jam dinding
Mengetuk papan bernama hati untuk tenang
"sudah jangan dipikirkan", katanya
Serangkaian alfabet berhenti meluncur dari bibir
Namun bergumulan di pojok organ satu itu